Jatiluhur Cross Country 2007
November 10, 2007
Bukan saja sebuah perjalanan melintasi hutan, namun juga melintasi banyak manusia, bunga dan perdu, sawah dan ladang, juga peristiwa …
Berawal dari ketertarikan saya akan Jatiluhur. Sebuah tempat yang berjarak 9 km dari pusat kota Purwakarta, Jawa Barat. Ketika anak-anak di Batang, dulu, puluhan tahun yang lalu, saya selalu dicecoki dengan data, bahwa Waduk Jatiluhur yang nama resminya adalah Waduk Ir. H. Juanda adalah waduk terbesar di Indonesia. Saya tidak tahu benar, apakah data tersebut telah berubah atau belum. Hal yang pasti, sebagai orang yang kemudian menetap di Purwakarta dan menjadikannya tanah air kedua, saya bangga memilikinya.

Waduk Ir. H. Juanda, Jatiluhur, Purwakarta
Tanpa sengaja, saya mendapati disposisi dari Bos tentang adanya sebuah acara bertajuk Jatiluhur Cross Country 2007 yang diadakan oleh Alumni Pendidikan Tantina Jatiluhur. Saya langsung tertarik dan berjanji menjadikannya obyek hunting pertama saya (saya belum pernah menyengaja hunting foto). Saya bersama empat kawan-kawan pun berkumpul untuk berangkat, hari itu, 2 September 2007 tepat pukul 08.00 pagi di kantor.

Berposes sebelum berangkat
Sesampai di Tenda Biru Jatiluhur, telah berkumpul banyak peserta. Namun, saya justru tertarik pada kereta angin yang tepat berada di sisi waduk. Terasa sangat tradisional memang, jika diperbandingkan dengan Dufan atau Disneyland. Namun, cukup rasanya membuat anak-anak puas bermain.

Anak-anak tengah asyik bermain kereta angin
Tepat pukul 08.54 tiga regu pertama diberangkatkan dan berencana mengitari hutan di sisi waduk sepanjang 6 km. Panitian sudah cukup menakuti kami dengan jalanan dengan dakian yang terjal dan turunan yang curam. “Keciiiiil”, seluruh peserta sepakat menyahuti. Saya? Sudah sangat ketar-ketir dengan ancaman route itu. Sudah lama sekali tidak naik gunung. Terakhir sekali, saat kuliah, mendaki Dieng dari arah Bawang, Batang. Hampir 8 jam tanpa henti. Oh ya, regu kami berangkat sekitar 15 menit kemudian.

Tim pertama diberangkatkan
Baru lima menit jalan, benar saja, jalan sudah mendaki. Tapi, lelah belum menyergap, mengingat hutan lebih membuatku tertarik. Tombak-tombak cahaya yang muncul di antara dedaunan pohon membuat ROL teramat indah dan sayang untuk tidak diabadikan. Juga perdu dan semak yang memunculkan bunga warna-warni yang hampir tidak pernah saya temui sebelumnya. Belum lagi gurauan antarkami.


Jalan mendaki
Sempat tersesat hampir 1 kiloan, kami bertemu rombongan keempat. Wow, tertinggal satu regu pemberangkatan, nih. ‘Gak mungkin menang, deh’, kata seorang kawan. Jadinya, moment itu malah jadi moment narsis para anggota perjalanan.







Narsis
Benar, ini bukan saja perjalanan melintasi hutan, namun juga melintasi banyak hal. Tanah yang mulai mengering, menanti hujan yang tidak kunjung datang. Perempuan-perempuan perkasa, yang hidupnya dikaryakan dengan cinta, bagi keluarganya. Kakek tua yang masih juga perkasa, dan memilih tetap di sawahnya. Pipa-pipa air yang entah mengapa dibuat oleh masing-masing pemiliknya. Sepertinya tidak ada sinergi untuk menjadikannya satu pipa besar saja dan membaginya kelak setiba di rumah mereka. Landscape waduk, pepohonan yang tidak dapat maksimal saya raih dengan kamera saya. Dan yang pasti, bunga-bunga indah ….












Keindahan di sepanjang perjalanan
Letih mendera, namun di ujung acara di Purwakarta, selalu ada keriuhrendahan tawa. Lengkap dengan Sang Diva dan sawernya … Selamat menikmati.


Sang Diva
Entry Filed under: Liputan. Tag: bunga, cross country, danau, hutan, jatiluhur, jawa barat, purwakarta, ROL, waduk.
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
gtr_bolong | Juli 21, 2009 at 1:50 am
ah emang deh dokumenternya….siip abis..goodluck
2.
lie | Oktober 4, 2009 at 9:19 pm
wuiiih indah euung